Banyak pelaku usaha mencatat pembelian mesin, kendaraan, komputer, atau peralatan sebagai aset, tetapi lupa memperhitungkan penurunan manfaat aset tersebut dari tahun ke tahun.
Akibatnya, laba perusahaan terlihat lebih besar, nilai aset tampak terlalu tinggi, dan perhitungan pajak berisiko tidak sesuai.
Dalam akuntansi, penyusutan bukan sekadar mencatat turunnya harga jual aset. Penyusutan adalah proses membagi biaya perolehan aset selama masa manfaatnya.
Adapun penurunan nilai akibat kerusakan berat atau perubahan kondisi ekonomi dibahas secara terpisah dalam ketentuan penurunan nilai aset.
Ikatan Akuntan Indonesia mengatur aset tetap melalui PSAK 216: Aset Tetap, yang sebelumnya dikenal sebagai PSAK 16. Perubahan penomoran tersebut berlaku efektif sejak 1 Januari 2024. (Ikatan Akuntan Indonesia)
Masalah yang sering muncul ketika penyusutan aset perusahaan tidak dicatat dengan benar antara lain:
- Laba terlihat tinggi karena biaya pemakaian aset tidak diakui.
- Nilai kendaraan, mesin, atau peralatan dalam neraca tidak lagi wajar.
- Laporan keuangan komersial sulit dicocokkan dengan laporan fiskal.
- Perusahaan kehilangan biaya pengurang pajak yang sebenarnya dapat diakui.
- Manajemen tidak memiliki cadangan yang cukup untuk mengganti aset.
Menurut penulis, kesalahan terbesar pemilik bisnis adalah menganggap pembelian aset selesai ketika pembayaran lunas.
Padahal, sejak digunakan, aset mulai “mengonsumsi” manfaat ekonominya. Mesin memang tidak mengirim invoice bulanan, tetapi keausannya tetap menjadi biaya perusahaan.

Jasa Pembuatan PT UMUM BISA BAYAR BELAKANGAN! Konsultasi GRATIS!
Pengertian Penyusutan Aset dan Peranannya dalam Laporan Keuangan
Penyusutan aset adalah pembagian biaya perolehan aset tetap secara sistematis selama masa manfaatnya. Pencatatan penyusutan membantu perusahaan menunjukkan beban operasional dan nilai aset secara lebih wajar dalam laporan keuangan.
Apa Itu Penyusutan Aset Perusahaan?
Penyusutan aset perusahaan adalah pencatatan biaya atas penggunaan aset berwujud, seperti mesin, kendaraan, gedung, dan peralatan kantor. Biaya tersebut tidak langsung dibebankan seluruhnya pada saat aset dibeli, tetapi dibagi selama beberapa periode.
Secara sederhana, penyusutan menjawab pertanyaan berikut:
“Berapa bagian biaya aset yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan pada tahun ini?”
Contohnya, PT membeli mesin seharga Rp120 juta yang diperkirakan dapat digunakan selama lima tahun.
Membebankan seluruh Rp120 juta pada tahun pertama dapat membuat laporan laba rugi terlihat tidak seimbang. Karena itu, biaya mesin dialokasikan sesuai masa manfaatnya.
Penyusutan juga berbeda dari pengeluaran kas. Beban penyusutan dicatat setiap periode, tetapi tidak selalu diikuti pembayaran uang pada periode tersebut. Uang biasanya sudah keluar ketika aset dibeli.
Mengapa Penyusutan Penting untuk Laporan Keuangan?
Penyusutan penting karena memengaruhi nilai aset, laba bersih, perencanaan penggantian peralatan, dan perhitungan pajak. Tanpa penyusutan, laporan keuangan dapat menampilkan laba dan nilai aset yang lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.
Pencatatan penyusutan membantu perusahaan:
- Memasangkan biaya aset dengan pendapatan yang dihasilkan.
- Menampilkan nilai buku aset secara lebih masuk akal.
- Menilai efisiensi penggunaan mesin dan peralatan.
- Menentukan kebutuhan investasi aset baru.
- Menyusun laporan komersial dan fiskal secara tertib.
Berdasarkan prinsip PSAK 216, metode penyusutan harus mencerminkan pola pemakaian manfaat ekonomi aset. Metode tersebut juga perlu ditinjau apabila terjadi perubahan penting dalam cara aset digunakan. (Ikatan Akuntan Indonesia)
Jenis-Jenis Aset Tetap yang Dapat Disusutkan pada PT
Aset tetap yang dapat disusutkan umumnya berupa aset berwujud yang digunakan dalam operasional dan memiliki masa manfaat lebih dari satu periode. Aset tersebut tidak dibeli untuk langsung dijual kembali dalam kegiatan usaha biasa.
Aset Berwujud yang Mengalami Keausan
Penyusutan aset tetap PT dapat diterapkan pada aset yang secara fisik mengalami penggunaan, keausan, atau berkurangnya manfaat ekonomi.
Contohnya meliputi:
- Gedung kantor, gudang, dan bangunan pabrik.
- Mesin produksi.
- Kendaraan operasional.
- Komputer, server, dan perangkat elektronik.
- Meja, kursi, lemari, serta inventaris kantor.
- Peralatan toko dan restoran.
- Mesin cetak, kamera, dan peralatan studio.
- Peralatan konstruksi.
Tidak semua barang yang dibeli perusahaan harus dicatat sebagai aset tetap. Barang bernilai kecil dengan masa penggunaan singkat dapat langsung dibebankan sesuai kebijakan kapitalisasi perusahaan dan standar akuntansi yang digunakan.
Syarat Aset Boleh Disusutkan
Aset umumnya dapat disusutkan apabila manfaatnya digunakan untuk kegiatan perusahaan dan berlangsung lebih dari satu periode. Perusahaan juga harus dapat mengukur biaya perolehan serta memperkirakan masa manfaatnya secara wajar.
Dalam praktik pembukuan, perusahaan perlu memastikan bahwa aset:
- Dimiliki atau dikuasai untuk kegiatan operasional.
- Diperkirakan memberikan manfaat lebih dari satu periode.
- Tidak dibeli untuk segera dijual kembali.
- Memiliki nilai perolehan yang dapat diukur.
- Telah tersedia dan siap digunakan.
Untuk kepentingan pajak, harta berwujud harus dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, serta memelihara penghasilan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
PMK Nomor 72 Tahun 2023 pada dasarnya mengecualikan tanah dengan hak tertentu dari penyusutan fiskal. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia)
Tips praktis: buat daftar aset tetap yang memuat tanggal pembelian, harga perolehan, lokasi, pengguna, nomor identifikasi, masa manfaat, metode penyusutan, dan nilai buku.
Daftar tersebut sering lebih berguna daripada spreadsheet bernama “aset-final-revisi-fix-baru.xlsx”.
Metode Penyusutan Aset Perusahaan dan Cara Menghitungnya
Metode penyusutan menentukan pola pembagian biaya aset selama masa manfaatnya. Metode yang umum digunakan adalah garis lurus, saldo menurun, dan unit produksi, tetapi pemilihannya harus mengikuti pola penggunaan aset serta ketentuan pajak yang berlaku.
| Metode | Dasar penghitungan | Cocok digunakan untuk |
| Garis lurus | Beban sama setiap periode | Gedung, peralatan kantor, kendaraan |
| Saldo menurun | Beban lebih besar pada awal masa manfaat | Komputer, mesin, teknologi |
| Unit produksi | Berdasarkan jumlah produksi atau pemakaian | Mesin manufaktur |
Metode Garis Lurus
Metode garis lurus membebankan jumlah penyusutan yang sama setiap tahun. Metode ini cocok ketika manfaat aset diperkirakan relatif stabil selama masa penggunaannya.
Rumus:
Penyusutan tahunan = (Harga perolehan − Nilai residu) ÷ Masa manfaat
Contoh:
- Harga mesin: Rp120 juta
- Nilai residu: Rp20 juta
- Masa manfaat: 5 tahun
Perhitungannya:
(Rp120 juta − Rp20 juta) ÷ 5 = Rp20 juta per tahun
Perusahaan mencatat beban penyusutan sebesar Rp20 juta setiap tahun selama lima tahun.
Metode Saldo Menurun
Metode saldo menurun menghasilkan beban penyusutan lebih besar pada tahun-tahun awal. Metode ini cocok untuk aset yang manfaat atau produktivitasnya lebih tinggi ketika masih baru.
Rumus:
Penyusutan = Tarif penyusutan × Nilai buku awal periode
Misalnya, aset senilai Rp100 juta menggunakan tarif 40%:
- Tahun pertama: 40% × Rp100 juta = Rp40 juta.
- Nilai buku akhir tahun pertama: Rp60 juta.
- Tahun kedua: 40% × Rp60 juta = Rp24 juta.
- Nilai buku akhir tahun kedua: Rp36 juta.
Dalam penyusutan fiskal, tarif saldo menurun tidak boleh ditentukan sesuka perusahaan. Tarif harus mengikuti kelompok harta dalam ketentuan perpajakan.
Metode saldo menurun fiskal hanya dapat digunakan untuk harta bukan bangunan, sedangkan bangunan disusutkan dengan metode garis lurus.
Metode Unit Produksi
Metode unit produksi menghitung penyusutan berdasarkan jumlah barang yang dihasilkan atau tingkat pemakaian aset. Metode ini tepat untuk mesin yang keausannya lebih dipengaruhi volume produksi daripada lamanya waktu.
Rumus:
Penyusutan per unit = (Harga perolehan − Nilai residu) ÷ Total kapasitas produksi
Contoh:
- Harga mesin: Rp120 juta
- Nilai residu: Rp20 juta
- Kapasitas produksi: 100.000 unit
Penyusutan per unit:
Rp100 juta ÷ 100.000 = Rp1.000 per unit
Apabila mesin menghasilkan 20.000 unit dalam setahun, beban penyusutannya adalah:
20.000 × Rp1.000 = Rp20 juta
Metode unit produksi dapat relevan dalam laporan keuangan komersial. Namun, untuk penyusutan fiskal umum, UU PPh dan PMK 72/2023 menggunakan metode garis lurus atau saldo menurun sesuai kelompok aset.
Dampak Penyusutan Aset terhadap Pajak Perusahaan
Beban penyusutan yang memenuhi syarat dapat mengurangi penghasilan kena pajak perusahaan. Namun, manfaat tersebut hanya berlaku sesuai ketentuan fiskal dan tidak berarti perusahaan bebas menentukan umur, tarif, atau metode penyusutan sendiri.
Penghematan Pajak Melalui Biaya Penyusutan
Penyusutan dapat menghasilkan penghematan pajak karena beban yang diakui mengurangi laba fiskal. Efek tersebut sering disebut sebagai tax shield atau perlindungan pajak dari biaya yang dapat dikurangkan.
Misalnya, perusahaan memiliki beban penyusutan fiskal Rp20 juta. Dengan asumsi tarif PPh Badan umum 22% dan tidak terdapat koreksi lain, dampak teoritisnya adalah:
Rp20 juta × 22% = Rp4,4 juta
Artinya, beban penyusutan tersebut berpotensi mengurangi PPh Badan sebesar Rp4,4 juta. Tarif umum PPh Badan pada 2026 tetap sebesar 22%, meskipun fasilitas atau skema pajak tertentu dapat menghasilkan penghitungan berbeda. (Directorate General of Taxes)
Namun, penyusutan tidak otomatis mengurangi pajak bagi usaha yang pajaknya dihitung secara final dari omzet.
Pengaruh penyusutan terutama terasa bagi perusahaan yang menghitung PPh berdasarkan penghasilan kena pajak.
Ketentuan Fiskal vs Komersial dalam Penyusutan
Penyusutan komersial mengikuti standar akuntansi dan pola manfaat aset, sedangkan penyusutan fiskal mengikuti kelompok, masa manfaat, tarif, dan metode yang ditentukan pemerintah. Perbedaan tersebut harus dicatat dalam rekonsiliasi fiskal.
Tarif penyusutan fiskal berdasarkan PMK 72/2023 adalah:
| Kelompok fiskal | Masa manfaat | Garis lurus | Saldo menurun |
| Kelompok 1 | 4 tahun | 25% | 50% |
| Kelompok 2 | 8 tahun | 12,5% | 25% |
| Kelompok 3 | 16 tahun | 6,25% | 12,5% |
| Kelompok 4 | 20 tahun | 5% | 10% |
| Bangunan permanen | 20 tahun | 5% | Tidak tersedia |
| Bangunan tidak permanen | 10 tahun | 10% | Tidak tersedia |
Jenis aset bukan bangunan harus disesuaikan dengan daftar dalam lampiran PMK 72/2023. Apabila aset tidak tercantum, ketentuan dasarnya menggunakan Kelompok 3, kecuali perusahaan memperoleh penetapan kelompok lain dari Direktorat Jenderal Pajak. (Directorate General of Taxes)
Perbedaan lain terdapat pada waktu dimulainya penyusutan:
- Komersial: umumnya dimulai ketika aset tersedia dan siap digunakan.
- Fiskal: pada dasarnya dimulai pada bulan pengeluaran untuk memperoleh aset, dengan pengecualian untuk aset yang masih dikerjakan, belum digunakan, atau termasuk bidang usaha tertentu. (Directorate General of Taxes)
Perbedaan waktu, masa manfaat, dan tarif tersebut dapat menghasilkan koreksi fiskal positif atau negatif.
FAQ Penyusutan Aset Perusahaan
Apakah tanah termasuk aset yang dapat disusutkan?
Tanah pada umumnya tidak disusutkan karena biasanya dianggap memiliki masa manfaat yang tidak terbatas. Bangunan yang berdiri di atas tanah tetap disusutkan secara terpisah.
Untuk kepentingan fiskal, tanah dengan hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, atau hak pakai pada dasarnya dikecualikan dari penyusutan. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia)
Kapan perusahaan mulai menghitung penyusutan?
Dalam laporan komersial, penyusutan dimulai ketika aset sudah berada dalam kondisi dan lokasi yang diperlukan untuk digunakan.
Dalam penghitungan fiskal, waktu mulai penyusutan mengikuti Pasal 5 PMK 72/2023 dan dapat berbeda berdasarkan kondisi aset. (Ikatan Akuntan Indonesia)
Apakah metode penyusutan boleh diganti di tengah jalan?
Metode komersial dapat diubah jika pola penggunaan manfaat ekonomi aset berubah secara signifikan. Perubahan tersebut diperlakukan sebagai perubahan estimasi dan diterapkan secara prospektif, bukan untuk sekadar mengatur laba. Untuk fiskal, metode harus digunakan secara konsisten sesuai pilihan yang diperbolehkan. (Ikatan Akuntan Indonesia)
Bagaimana jika umur ekonomis aset sudah habis tetapi masih digunakan?
Aset yang sudah disusutkan penuh dapat tetap digunakan dan dicatat dengan nilai buku nol atau sebesar nilai residunya. Perusahaan tidak boleh mencatat penyusutan tambahan melebihi jumlah yang dapat disusutkan. Kondisi tersebut juga menjadi tanda bahwa estimasi masa manfaat sebelumnya perlu dievaluasi.
Apa perbedaan penyusutan dan amortisasi?
Penyusutan digunakan untuk aset berwujud seperti mesin, kendaraan, dan gedung. Amortisasi digunakan untuk aset tidak berwujud seperti hak, lisensi, atau program aplikasi khusus yang memenuhi syarat.

Jasa Pembuatan PT UMUM Terpercaya! Konsultasi GRATIS!
Kesimpulan
Penyusutan aset perusahaan membantu laporan keuangan menggambarkan penggunaan aset dan laba secara lebih wajar.
Pencatatan yang benar juga memudahkan perusahaan merencanakan penggantian aset serta menghitung kewajiban pajak.
Poin utamanya adalah:
- Penyusutan merupakan alokasi biaya, bukan sekadar penurunan harga pasar.
- Metode harus sesuai pola penggunaan aset.
- Penyusutan komersial dan fiskal dapat menghasilkan angka berbeda.
- Beban penyusutan fiskal dapat mengurangi penghasilan kena pajak secara legal.
- Daftar aset tetap harus diperbarui dan direkonsiliasi secara berkala.
Menurut penulis, perusahaan tidak cukup hanya memiliki invoice pembelian aset. Perusahaan membutuhkan kebijakan kapitalisasi, register aset, jadwal penyusutan, dan rekonsiliasi fiskal yang terhubung.
Tanpa sistem tersebut, laporan keuangan mudah berubah menjadi arsip transaksi, bukan alat pengambilan keputusan.
Solusi Pengurusan Legalitas dan Konsultasi Keuangan PT
Legalitas, pembukuan, dan kepatuhan pajak seharusnya dibangun dalam satu struktur administrasi yang saling terhubung.
Data aset perusahaan juga harus sesuai dengan kepemilikan, kegiatan usaha, kontrak, serta dokumen transaksi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Legazy dapat menjadi mitra strategis dalam pengurusan legalitas dan penataan administrasi PT. Pendampingan yang terstruktur membantu pemilik usaha menjaga fondasi bisnis tetap tertib, sehingga manajemen dapat fokus pada pertumbuhan tanpa mengabaikan kepatuhan perusahaan.
Ringkasan Cepat Penyusutan Aset Perusahaan
- Penyusutan membagi biaya aset selama masa manfaatnya.
- PSAK 216 menjadi acuan utama aset tetap dalam SAK Indonesia.
- Metode umum meliputi garis lurus, saldo menurun, dan unit produksi.
- Penyusutan fiskal mengikuti UU PPh dan PMK 72/2023.
- Bangunan fiskal hanya menggunakan metode garis lurus.
- Tanah pada umumnya tidak disusutkan.
- Perbedaan penyusutan komersial dan fiskal dicatat melalui rekonsiliasi fiskal.
- Penyusutan dapat mengurangi laba kena pajak, tetapi bukan pengeluaran kas baru.
Referensi
- Ikatan Akuntan Indonesia. 2025. PSAK 216: Aset Tetap dan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia Efektif. (Ikatan Akuntan Indonesia)
- Ikatan Akuntan Indonesia. 2015. Aset Tetap: Klarifikasi Metode yang Diterima untuk Penyusutan dan Amortisasi. (Ikatan Akuntan Indonesia)
- Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2023. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia)
- Direktorat Jenderal Pajak. 2025. Penyusutan dan Amortisasi: Kelompok, Masa Manfaat, Tarif, dan Waktu Mulai Penyusutan. (Directorate General of Taxes)
- Pemerintah Republik Indonesia. 2021. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. (Database Peraturan | JDIH BPK)
- Direktorat Jenderal Pajak. 2026. Ketentuan Tarif Pajak Penghasilan Badan dan Perubahan Skema PPh Final UMKM. (Directorate General of Taxes)
Artikel ini bersifat edukasi umum. Penentuan masa manfaat, kelompok aset, koreksi fiskal, dan pajak terutang perlu disesuaikan dengan kondisi serta standar akuntansi yang digunakan masing-masing perusahaan.
