Banyak pelaku usaha senang melihat omzet naik, tapi belum tentu tahu apakah bisnisnya benar-benar untung.
Sering kali, istilah seperti profit, laba, dan income dipakai secara bergantian tanpa memahami perbedaan mendasarnya. Padahal, ketiganya punya arti dan peran yang berbeda dalam mengukur kesehatan keuangan bisnis.
Memahami apa itu profit dan bagaimana cara menghitungnya bukan sekadar urusan akuntansi, ini adalah fondasi dalam mengambil keputusan penting: mulai dari menentukan harga, strategi ekspansi, hingga mencari investor.
Tanpa pemahaman yang jelas soal profit, bisnis bisa terlihat “ramai” di luar, tapi sebenarnya merugi di dalam.
Di artikel ini, Legazy akan membahas secara lengkap tentang apa itu profit, jenis-jenisnya, perbedaannya dengan laba dan income, hingga cara menghitung profit dengan rumus sederhana yang bisa langsung kamu praktikkan di bisnismu.
Apa Itu Profit?
Secara sederhana, profit adalah keuntungan bersih yang didapat bisnis setelah dikurangi semua biaya operasional, termasuk biaya produksi, gaji karyawan, pajak, dan pengeluaran lainnya.
Dengan kata lain, profit menunjukkan seberapa efisien sebuah bisnis menghasilkan uang dari kegiatan operasionalnya.
Dalam konteks bisnis modern, profit bukan sekadar angka di laporan keuangan, tapi cerminan dari keberlanjutan dan kesehatan usaha.
Bisnis yang terus mencetak profit berarti mampu mengelola biaya dengan baik, menjaga arus kas, dan memiliki daya tahan terhadap perubahan pasar.
Namun, banyak pengusaha yang keliru memahami konsep ini.
Omzet besar belum tentu berarti profit besar.
Contohnya, sebuah bisnis kuliner bisa menghasilkan omzet ratusan juta per bulan, tapi kalau biaya bahan baku, gaji, dan sewa terlalu tinggi, keuntungan bersihnya bisa sangat kecil, bahkan negatif.
Profit adalah tolok ukur nyata apakah bisnis benar-benar “hidup” dan siap berkembang, bukan sekadar ramai penjualan.
Jenis-Jenis Profit dalam Bisnis
Dalam dunia bisnis, “profit” sebenarnya punya beberapa jenis yang menunjukkan tahapan perhitungan keuntungan. Setiap jenis memberikan gambaran yang berbeda tentang kondisi keuangan perusahaan. Berikut tiga jenis profit yang paling umum:
1. Gross Profit (Laba Kotor)
Gross profit adalah selisih antara pendapatan (revenue) dan biaya pokok produksi (COGS), yaitu biaya langsung untuk membuat produk atau menyediakan jasa.
Misalnya kamu jual minuman kopi dengan harga Rp20.000 per gelas, dan biaya bahan baku (kopi, susu, gula, cup) Rp8.000, maka gross profit kamu Rp12.000 per gelas.
Laba ini belum memperhitungkan biaya operasional lain seperti sewa tempat, gaji barista, atau listrik.
2. Operating Profit (Laba Operasional)
Setelah dikurangi biaya operasional , seperti gaji karyawan, sewa tempat, biaya listrik, dan promosi, barulah kamu mendapatkan laba operasional.
Operating profit menggambarkan seberapa efisien bisnis menjalankan aktivitas hariannya.
Kalau diibaratkan, gross profit menunjukkan “seberapa untung jualanmu”, sementara operating profit menunjukkan “seberapa pintar kamu menjalankan bisnisnya”.
3. Net Profit (Laba Bersih)
Inilah keuntungan sesungguhnya, hasil akhir setelah semua biaya, bunga pinjaman, dan pajak dikurangi dari pendapatan.
Net profit adalah angka yang paling penting karena menunjukkan seberapa banyak uang yang benar-benar bisa kamu simpan atau putar kembali ke bisnis.
Contohnya, jika setelah semua pengeluaran kamu masih menyisakan Rp5 juta dari omzet Rp50 juta, berarti net profit-mu 10%.
Ilustrasi singkat:
Bayangkan kamu punya toko roti.
- Setelah jualan: kamu hitung selisih bahan baku – profit kotor
- Setelah bayar sewa & gaji pegawai – operating profit
- Setelah bayar pajak – net profit
Semakin efisien kamu mengelola tiap tahap itu, semakin besar keuntungan yang bisa kamu nikmati.
Profit vs Laba vs Income, Apa Bedanya?
Banyak pelaku usaha sering menyamakan istilah profit, laba, dan income, padahal ketiganya punya makna yang sedikit berbeda, terutama dalam konteks keuangan dan strategi bisnis.
Secara umum, “laba” adalah istilah yang biasa digunakan dalam laporan keuangan di Indonesia sebagai terjemahan formal dari profit. Namun, ketika dibahas dalam konteks bisnis dan manajemen, perbedaan kecil di antara istilah-istilah ini bisa sangat penting.
1. Laba
Laba menggambarkan hasil akhir perhitungan keuangan dari sebuah periode tertentu. Angkanya muncul di laporan laba rugi dan biasanya dibagi menjadi laba kotor, laba operasional, dan laba bersih.
Laba menunjukkan performa keuangan perusahaan dalam bentuk formal
2. Income (Pendapatan)
Income mencakup semua pemasukan bisnis, baik dari aktivitas utama (menjual produk/jasa) maupun non-operasional (misalnya bunga bank, investasi, atau penjualan aset).
Artinya, income belum tentu mencerminkan keuntungan, karena belum dikurangi biaya.
3. Profit (Keuntungan Bersih)
Profit adalah ukuran efisiensi bisnis, yaitu sisa uang setelah semua biaya dipotong dari pendapatan. Dalam konteks manajerial, profit menjadi tolak ukur seberapa efektif bisnis menjalankan operasionalnya untuk menghasilkan nilai.
Seperti contoh, sebuah bisnis kuliner punya income Rp100 juta per bulan. Setelah dikurangi bahan baku, gaji, sewa, dan pajak, tersisa Rp15 juta, itulah profit atau laba bersih.
Jadi, meskipun pendapatannya tinggi, belum tentu bisnis itu benar-benar untung besar kalau biaya operasionalnya juga besar.
Cara Menghitung Profit dengan Mudah
Secara sederhana, rumus dasar profit bisa ditulis seperti ini:
Profit = Total Pendapatan – Total Biaya
Tapi agar lebih akurat, kamu perlu menghitungnya langkah demi langkah. Berikut panduan sederhananya:
1. Hitung Semua Pendapatan (Total Revenue)
Catat semua pemasukan bisnis selama satu periode, bisa dari penjualan produk, jasa, atau pendapatan lain seperti komisi dan bonus kerja sama.
Misal, trotal pendapatan bulan ini Rp50.000.000
2. Kurangi Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah pengeluaran yang jumlahnya relatif stabil tiap bulan, seperti:
- Sewa tempat: Rp5.000.000
- Gaji karyawan: Rp10.000.000
- Listrik dan internet: Rp2.000.000
Total biaya tetap = Rp17.000.000
3. Kurangi Biaya Variabel (Variable Cost)
Ini biaya yang berubah tergantung aktivitas produksi, misalnya:
- Bahan baku: Rp8.000.000
- Ongkos kirim: Rp2.000.000
- Promosi online: Rp3.000.000
Total biaya variabel = Rp13.000.000
4. Hitung Profit Bersih
Sekarang tinggal kurangi semua biaya dari total pendapatan:
Profit = Rp50.000.000 – (Rp17.000.000 + Rp13.000.000)
Profit = Rp20.000.000
Artinya, selama satu bulan bisnis kamu berhasil menghasilkan keuntungan bersih Rp20 juta setelah semua pengeluaran ditanggung.
Dengan cara ini, kamu bisa tahu dengan jelas apakah bisnis benar-benar untung, atau sekadar punya omzet besar tapi belum efisien.
Tips: Selalu pisahkan pencatatan keuangan pribadi dan bisnis. Dengan begitu, perhitungan profit akan lebih jernih dan memudahkan pengurusan pajak maupun laporan usaha di OSS.
Kesimpulan: Profit Bukan Sekadar Angka
Profit bukan cuma soal berapa besar uang yang masuk, tapi seberapa efisien bisnis kamu berjalan.
Ia jadi cermin kesehatan usaha, apakah strategimu menghasilkan nilai nyata atau justru membakar biaya tanpa arah.
Fokuslah bukan hanya pada omzet, tapi juga bagaimana setiap rupiah bekerja untuk menumbuhkan profit yang berkelanjutan.