Legazy

PIRT vs BPOM: Mana “Paspor” yang Pas Buat Produkmu?

Sederhananya, perbedaan keduanya bukan soal seberapa besar bisnismu, tapi seberapa tinggi risiko makanan yang Anda buat. Konsumen sekarang makin teliti; lihat produk tanpa kode izin edar di label, mereka pasti mikir dua kali buat beli.

Kapan Cukup Pakai PIRT Saja?

Kalau Anda baru merintis usaha dari dapur rumah pakai alat-alat yang ada, SPP-PIRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) biasanya sudah cukup. Ini adalah izin “pintu masuk” buat UMKM skala mikro.

Cek kriteriamu di sini:

  • Lokasi: Produksi harus di rumah tinggal, bukan di gedung khusus pabrik.
  • Teknologi: Pakai alat manual sampai semi-otomatis (misal: hand sealer atau mixer roti rumahan).
  • Daya Tahan: Produkmu harus awet lebih dari 7 hari di suhu ruang.
  • Jenis Produk: Biasanya makanan kering seperti keripik, kue kering, kopi bubuk, atau sambal yang sudah diproses sedemikian rupa sehingga stabil di suhu ruang.

Enaknya pakai PIRT: Prosesnya di tahun 2026 ini sudah self-declaration lewat OSS. Begitu daftar dan janji bakal ikut aturan, nomor izin bisa langsung terbit dalam hitungan jam. Tapi ingat, jangan asal janji, karena Dinas Kesehatan bakal datang sidak buat ngecek kenyataan di lapangan dalam 3-6 bulan.

Kapan Anda “Wajib” Upgrade ke BPOM MD?

Jangan salah sangka, biarpun produksinya masih dari rumah, ada jenis produk tertentu yang haram pakai PIRT dan wajib punya nomor BPOM MD. BPOM menangani pangan yang risikonya lebih tinggi atau butuh pengawasan ketat.

Anda wajib ke BPOM kalau jualan:

  • Frozen Food: Segala jenis makanan beku yang butuh suhu dingin biar nggak basi (seperti nugget, bakso beku, atau dimsum).
  • Olahan Susu & Daging: Yogurt, keju, sosis, atau kornet.
  • Makanan Kaleng: Produk yang lewat proses sterilisasi komersial (seperti gudeg kaleng).
  • Minuman Beralkohol & AMDK: Air minum dalam kemasan punya standar laboratorium yang super ketat.
  • Klaim Kesehatan: Kalau di kemasan Anda tulis “Bisa melangsingkan” atau “Bikin pintar”, itu sudah ranah BPOM.
See also  Tips Bisnis Offline: Panduan untuk Pemula agar Usaha Tetap Bertahan

Tantangannya: BPOM jauh lebih detail. Dapur produksi harus terpisah dari dapur rumah tangga buat menghindari kontaminasi silang. Alur kerja dari bahan baku datang sampai barang jadi keluar harus searah. Memang lebih ribet, tapi kalau sudah pegang nomor BPOM MD, kepercayaan minimarket nasional dan hotel bakal meningkat drastis.

Belajar dari Kasus “Sambal Rumahan”

Masalah ini dialami banyak orang, contohnya kasus Ibu Sari. Awalnya beliau jualan sambal botol biasa pakai izin PIRT. Aman. Tapi begitu beliau bikin inovasi Sambal Cumi Pete Frozen, PIRT-nya nggak berlaku lagi. Karena pakai bahan hewani basah dan disimpan beku, produk itu masuk kategori risiko tinggi. Kalau dipaksakan pakai PIRT, produknya bisa ditarik dari pasar karena dianggap menyalahi kategori.

Kesimpulan: Pilih yang Efisien, Bukan yang Keren

  • Pilih PIRT kalau produkmu makanan kering dan target pasarnya toko oleh-oleh atau ritel lokal. Biayanya gratis dan prosesnya secepat kilat.
  • Pilih BPOM kalau Anda mau main di frozen food, produk susu/daging, atau pengen tembus pasar ekspor. Investasinya lebih besar, tapi ini cara legal paling aman.

Ingat, jualan tanpa izin edar itu risikonya berat. Sesuai UU Pangan, dendanya bisa sampai miliaran rupiah atau urusan sama pihak berwajib. Lebih baik repot di awal daripada pusing di belakang, kan?

Share :

Daftar Isi

Daftar Isi

Categories

Related Posts